Asal-Usul Kota Pematangsiantar

JASMERAH….Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah

Presiden RI Pertama Dr. Ir. Soekarno

 

Pematang Siantar atau sering disebut hanya Siantar saja atau Pematangsiantar (penulisan yang benar adalah ini) adalah sebuah Kotamadya Sumatera Utara, sebelumnya masuk wilayah Kabupaten Simalungun.

Apa yang Anda pikirkan pertama sekali mengenai Siantar ?

  • Kota terbesar ke-2 setelah Medan di Sumatera Utara?
  • Preman Siantar? (Konon katanya) banyak preman di Siantar, terutama di Terminal Parluasan. Preman Siantar cukup disegani, terutama di tahun 1980-an, bukan hanya di wilayah Sumatera Utara tapi tetap familiar sampai ke Pulau Jawa.

Tapi tahukah Anda sejarah asal usul Pematangsiantar?

Sayang sekali di situs resmi Kotamadya Pematangsiantar penulis cek (berdasarkan pencarian) tidak ada informasi mengenai asal usulnya.

 

Setidaknya ada dua versi mengenai asal usul Pematangsiantar :

VERSI I

Pematang Siantar berasal dari kata Siantar, Konon katanya jaman dulu ada pertaruhan antara seorang  Boru Marpaung yang berasal dari Bius Siantar (Bius adalah wilayah desa yang termasuk wilayah kerajaan raja naopat/maropat,Kamus Batak – Indonesia) dengan penduduk di sebuah wilayah yang masuk wilayah Kerajaan Simalungun.

Si Boru Marpaung berdebat/bertaruh dengan penduduk sebuah wilayah yang masuk wilayah kerajaan Simalungun. Kemungkinan permasalahan/perebutan tanah/wilayah (karena jaman dulu selalu ada pertikaian/peperangan dalam memperebutkan tanah, bahkan antar kampung sekalipun). Si Boru Marpaung bersumpah bahwa tanah yang dipijak dia adalah tano Siantar (tano = tanah). Melihat kengototan si Boru Marpaung bahkan sampai bersumpah, orang-orang yang melawannya pun  menyerah.

Harap diingat nilai “sumpah” jaman dahulu nilainya sangat sakral/mistis. Seorang yang bersumpah menangggung resiko yang sangat berat. Karena dianggap akan mendapat kutukan jika terbukti salah. Ada istilah Na jolo jonok do Debata Mulajadi Nabolon (dahulu kala Allah sangat dekat) karena kesakralan sumpah tersebut.

Si Boru Marpaung berani bersumpah bahwa tanah yang dipijaknya adalah tano Siantar karena memang benar dia memijak tanah yang dibawanya dari Bius Siantar. Ada kepercayaan orang yang hingga sampai sekarang masih dipercayai, jika seseorang bepergian kesebuah daerah, maka dia akan membawa tanah dari asalnya dan melemparkannya ke wilayah baru yang dilewati/ditempatinya. Dengan harapan agar Pangisi (penghuni, pelindung, mahluk gaib) yang ada di daerahnya berteman (terikat perjanjian) dengan pangisi tempat yang dilewati/ditempatinya.

Dengan demikian Si Boru Marpaung tidak kena kutukan Mulajadi Nabolon.

Pematang sendiri artinya parhutaan atau perkampungan.Penulis menduga ada kemungkinan berasal dari kata Pamatang, yang artinya badan, tubuh, dari: batang (lihatKamus Batak – Indonesia).

Jadi Pematang Siantar bisa diartikan parhutaan yang tumbuh dari Siantar.

Bukti yang ada sampai sekarang adalah adanya nama Desa Siantar (Desa Siantar Sitio-tio, Siantar Dangsina, Siantar Tonga-tonga, Siantar Sigordan) di Kecamatan Siantar Narumonda. Juga masih ada Bius Siantar. Bius Siantar ini menjadi salah satu dari empat Bius yang masih ada di wilayah Kabupaten Toba Samosir. Penduduk asli Kecamatan Siantar Sendiri adalah Marpaung, Napitupulu, Sinambela, Panjaitan, dll (mayoritas Marpaung)

Bukti lain adalah adanya Jalan Narumonda Atas dan Narumonda Bawah yang sebagian besar penduduknya adalah Marga Marpaung yang berasal dari Narumonda (?).  Jalan Narumonda Bawah, Kelurahan Karo, Siantar Selatan (?). Jalan Narumonda Atas, Kel. Martimbang, Siantar Selatan (?). Menurut penulis, pemberian nama jalan tentu saja bukan kebetulan semata, tentu saja ada alasannya.

Penulis sendiri berasal dari Narumonda, penulis mendapatkan cerita ini dari penatua adat Bius Siantar, karena kebetulan orang tua penulis adalaha Raja Mardinding A.Jansen Panjaitan, yang mana saat ini sementara sebagai pengganti Raja Naopat/Maropat (Marga Marpaung) yang sudah mendiang. Jadi penatua-penatua adat sangat sering berkunjung/berdiskusi/rapat di rumah orang tua penulis.Cerita ini masih diketahui orang-orang tua dan para penatua adat.

Mungkin Anda juga berpikir, saya memberikan versi ini karena saya berasal dari Siantar Narumonda. Tidak, saya mencoba berpikir seobyektif mungkin. Mungkin Anda bertanya bagaimana kemungkinan kalau Marpaung atau nama Bius/Desa Siantar (Kec. Siantar Narumonda) yang berasal dari Pematangsiantar? Kemungkinan ini tipis sekali. Seperti yang kita yakini pada umumnya, suku Batak menyebar dari wilayah Toba.

Penulis pernah mengalami pengalaman yang cukup unik ketika pulang kampung. Di dalam bus yang penulis tumpangi, penulis ngobrol dengan beberapa penumpang yang tinggalnya di Siantar.  Ketika berkenalan, marga dan asal.. (kebiasaan orang batak….” Jolo nitiptip sanggar ninna baen huru huruan, Jolo Nisukkun Marga asa binoto Partuturan“; Umpasa, Umpama, dan Tudos-tudos), kenalan ini salah mengerti. Ketika saya mengatakan asal saya dari Narumonda, dia bertanya di Narumonda mana : Narumonda Bawah atau Narumonda Atas. Barulah sewaktu saya katakan Siantar Narumonda Porsea, mereka baru mengerti.  Pembicaraan kami jadinya panjang….;))

 

VERSI II

Nama asli Kota Siantar disebut Siattar dan masih terkait dengan kerajaan di Simalungun yaitu yang dikenal orang dengan Raja Jumorlang dan Datu Bolon.

Nama Pematang Siantar tersebut diawali dari cerita kedua tokoh ini, yang mana keduanya memiliki kesaktian mandraguna dan saling mengadu kesaktiannya.

Disuatu hari kedua tokoh ini mengadakan pertandingan kesaktian dan bagi pemenangnya akan mendapatkan “hadiah” yaitu berbentuk tanah atau wilayah dan harta benda serta istri orang yang telah dikalahkan.
Adu tanding kesaktian dikala itu sudah biasa dilakukan, namun pertandingan antara Raja Jumorlang dengan Datu Bolon dinilai sangat luar biasa karena kesaktian mereka sangat tersohor, sehingga masyarakat jadi penasaran dan ingin segerah tahu siapa yang menjadi pemenangnya. Adu kesaktianpun berlangsung di Bukit Parbijaan di Pulau Holong.

Tak diduga dalam adu kesaktian itu dimenangkan oleh Datu Bolon, sedangkan Raja Jumorlang kalah, tetapi secara kesatria , kedudukan Raja Jumorlang berpindah kepada Datu Bolon. Begitu hebatnya ilmu yang dimiliki Datu Bolon, setelah memenangkan pertandingan itu , diapun merubah namanya menjadi Raja Namartuah.

Raja Namartuah atau Datu Bolon akhirnya mengawini bekas permaisuri dari Raja Jumorlang dan posisinya tetap sebagai permaisuri (Puanbolon). Dari keturunan ini kelak akan menjadi penerus kerajaan Siattar, sedangkan anak dari Raja Jumorlang oleh Raja Namartuah dijadikan anak tiri.

Asal mula nama Siattar itu berasal dari nama sebidang tanah di “attaran” pada Pulau Holong. Dalam bahasa Simalungun “attar” ditambah akhiran an artinya kata unjuk untuk sebuah wilayah (areal tanah). Lama kelamaan akhiran an ini berubah menjadi awalan “si”.Sementara awalan “si” dalam bahasa Simalungun dipakai untuk sebuah kata tempat dan benda. Setelah digabung, akhirnya kata-kata itu menjadi nama sebuah perkampungan . Lama kelamaan daerah ini makin padat penduduknya dan warga pendatang juga terus bertambah.

Sedangkan kata Pematang berasal dan berartikan parhutaan atau perkampungan. Dulu Raja yang berkuasa di Siattar tinggal di Rumah Bolon atau Huta dan dari keadaan demikian inilah muncul ide tempat tinggal raja disebut pematang. Sehingga jika digabungkan nama itu menjadi Pematang Siantar artinya Istana Raja Siattar.

Sebelum mengalahkan Raja Jumorlang, Datu Bolon atau Raja Namartuah dikala itu sudah memiliki daerah kekuasaan yakni kerajaan SIPOLHA, lama kelamaan kerajaan itu digabungkan ke dalam suatu pusat pemerintahan di Siattar. Uniknya, dalam adat Simalungun, partuanon Sipolha berkedudukan sebagai tuan Kaha dan mempunyai hak menobatkan Raja Siattar.

Pertanyaannya mengapa partuanon sipolha justru bertindak menjadi tuan ‘ kaha’ dari pada Raja Siantar ?
Bila kita pergi ke Sipolha , maka disana akan terdapat suatu Huta bernama Huta Mula dan tempat tersebut didiami oleh Raja Malau. Generasi Malau Raja yang merantau ke Sipolha kemudian membangun daerah kekuasaanya disana dan tak bisa dipungkiri bahwa keturunan Malau Raja tersebut datang bersama-sama dengan keturunan dari Silau Raja lainnya yaitu Manik Raja, Ambarita Raja maupun Gurning Raja.

Malau Raja sebagai anak tertua dari keturunan Silau Raja harus bertindak sebagai kakak tertua bagi adik-adiknya yang lain dan tak terkecuali untuk wilayah Sipolha tersebut. Di Sipolha khususnya di Huta Mula maka yang menjadi penguasa kerajaan adalah bermarga Malau.

Oleh sebab itu, didalam Kerajaan Siattar akhirnya dibagi dalam lima (5) partuanon dan satu parbapaan yaitu:

  1. Partuanon Nagahuta.
  2. Partuanon Sipolha.
  3. Partuanon Marihat.
  4. Partuanon Sidamanik.
  5. Partuanon Bandar Tungkat.

Sedangkan untuk parbapaan khusus satu yaitu parbapaan Dolok Malela dan Tuan Bangun. Pembagian wilayah ini sampai sekarang masih dipertahankan dan berlaku khususnya dalam budaya.

Untuk versi II, penulis belum pernah mengadakan penelitan secara langsung.

Kedua versi ini kelihatan sangat masuk akal dan ada persamaan, yaitu adanya pertaruhan. Jadi yang mana yang benar? Who’s know :D.

 

sipeop na godang ndang marlobi-lobi, si peop na otik ndang hurangan.

BATAKPEDIA

on
Tags: , , ,
Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

Pingbacks/Trackbacks

Tinggalkan Pesan